Palu – Program MBG di Kota Palu Kini Sasar Balita, Ibu Hamil dan Menyusui. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur umum MBG Sekunder Kota Palu resmi memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyasar kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui (B3).
Kepala SPPG Dapur Sekunder Palu, Samuel Gultom, mengatakan penyaluran paket makanan bergizi untuk kelompok B3 sudah mulai berjalan sejak minggu lalu. “Dari minggu lalu kita sudah distribusikan ke B3,” ujar Samuel kepada TribunPalu.com, Selasa (18/11/2025). Saat ini, total penerima manfaat B3 yang dilayani dapur Sekunder mencapai 68 orang per hari, terdiri dari:
60 balita
3 ibu hamil
5 ibu menyusui
1 PIC distribusi
Distribusi makanan dilakukan melalui posyandu di wilayah Palu Selatan, salah satunya Posyandu Tanggul yang menjadi titik penyaluran aktif. Dua Jenis Porsi: Kecil untuk Balita, Besar untuk Ibu Hamil & Menyusui.
MBG untuk kelompok B3 disusun mengikuti standar kebutuhan gizi Badan Gizi Nasional (BGN), dengan dua kategori porsi:
1. Porsi Kecil (Balita)
Bahan baku: Rp8.000
Sewa wadah: Rp2.000
Biaya operasional: Rp3.000
Total: Rp13.000 per ompreng
2. Porsi Besar (Ibu Hamil & Menyusui)
Bahan baku: Rp10.000
Sewa wadah: Rp2.000
Biaya operasional: Rp3.000
Total: Rp15.000 per ompreng
Belum Terapkan Batasan Baru BGN 244/2025
Meski sudah melayani B3, SPPG Sekunder Palu belum menerapkan ketentuan baru dalam Aturan BGN Nomor 244 Tahun 2025 yang membatasi maksimal 3.000 porsi per dapur per hari. Saat ini, dapur MBG Sekunder masih melayani 3.463 siswa di 11 sekolah per hari, ditambah 63 penerima dari kelompok B3. “Untuk saat ini masih tetap sama, kita tunggu adanya sinkronisasi dan pemetaan,” jelas Samuel.
Baca Juga : Tim Ekspedisi Patriot Undip Paparkan Riset Anak Transmigrasi di Konferensi Internasional
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/yd89asyd89yas89d-ys89ay89dsadasdsa.jpg)
Dalam paparannya di hadapan media, Wihaji menyebutkan bahwa pemberian MBG pada kelompok sasaran tersebut adalah kebijakan yang tepat dan sangat penting sebagai upaya mencegah stunting. Fokus utama MBG adalah memberikan asupan bergizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun, karena stunting sangat dipengaruhi oleh kurangnya gizi di fase kritis ini.
Sebagaimana diketahui bersama, intervensi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau usia 0-2 tahun sangat memengaruhi percepatan penurunan stunting. Itulah mengapa sejak dalam kandungan perlu mendapat asupan bergizi seimbang. “Stunting salah satu sebabnya kan asupan gizi karena itu dimulai dari hulunya, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi di bawah dua tahun, tetapi di luar itu (balita) juga kita jalankan selama bukan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” ucap Mendukbangga Wihaji sebagaimana dikutip dari Antara.
Wihaji juga menambahkan bahwa program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah membantu sekitar 281 ribu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.vNilai ini disebut mengalami peningkatan signifikan dari awalnya hanya sebesar 10-20% penerima manfaat program MBG. Ditambahkan olehnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan 20 juta penerima MBG sebelum HUT RI ke-80 pada 17 Agustus 2025. Hingga saat ini, MBG disebutkan telah menjangkau 8,2 juta orang, termasuk siswa PAUD-SMA, ibu hamil, dan balita di seluruh Indonesia.
Meskipun jumlah pembagian program MBG ini kian dipercepat sebelum akhir Agustus, Prabowo menegaskan untuk tetap mengutamakan standar kualitasnya, mulai dari pelatihan pengurus dapur hingga manajemen keuangan.





